Uncategorized

Selamat malam, diganti dulu ya infusnya..

Kau bertanya kepadaku bagaimana caranya menjadi sakit saat aku terbaring di rumah sakit dengan cairan infus yang menetes begitu perlahan. β€œBagaimana?” katamu lagi.

Dalam sekejap aku mengerti inginmu. Aku tahu apa yang kau cari. Tapi aku belum menjawab dan hanya menatap matamu. Mencari sebuah tatap kesungguhan. Apakah kau benar-benar ingin sakit?

Kau bertanya kepadaku bagaimana caranya menjadi sakit karena kau tak mau repot-repot memikirkan tentang rencana yang terlalu jauh seperti bunuh diri. Percuma katamu. Kau tak akan mati meski seingin apapun kau bunuh diri jika Tuhan belum mengijinkan. Ah, ternyata kau masih percaya Tuhan, bukan?

Kau bertanya kepadaku bagaimana caranya menjadi sakit karena kau bilang kau tidak lagi tangguh untuk merengkuh keluh-keluh yang menyepuh. β€œAku ingin sakit aja. Tapi aku tidak ingin mati.” Katamu terisak, β€œaku tidak setolol itu” ah benarkah?

Kau bertanya kepadaku bagaimana caranya menjadi sakit karena kau kata bahwa kau hanya ingin menyingkir sejenak bukan selamanya, kau berkata bahwa kau ingin rebah sejenak dari semua beban yang mengungkung. Ah kau.

Kau bertanya kepadaku bagaimana caranya menjadi sakit justru untuk mengobati. Biarlah fisik sakit, tapi hati akan perlahan pulih meski tak akan lagi utuh. Airmataku jatuh akhirnya. Dan aku tak lagi mampu menahanmu.

Baiklah, biar kuberi satu rahasia tentang sebuah seni. Seni agar seluruh tubuhmu mengamini rasa sakit yang begitu ingin kau rasakan. Kuncinya adalah hati. Kau ingin sakit? Cukup biarkan hatimu yang telah sakit itu makin sakit secara berkelanjutan. Remukkan semua harapan, ratakan setiap inci kebahagiaan, jadikan dirimu seolah-olah orang paling menderita di dunia, salahkan semua orang yang telah membuatmu ingin rebah. Atur pikiranmu untuk jatuh sakit tiap hari. Yakinkan bahwa kau telah terlalu lama menampung airmata dan kau pantas untuk jatuh sakit. Dengarkan baik-baik, hati adalah komando tertinggi. Sekali ia meminta untuk sakit, maka tubuhmu sebagai abdi akan mematuhi. Dan sakitlah kau.

Duhai engkau, saat kau nanti terbaring sakit, mari bergabunglah denganku di ranjang rumah sakit ini. Kita nikmati rasa sakit kita. Selamat datang, wahai para pesakit! Selamat datang pada duniaku. Selamat bergabung.

Oh ya, aku hampir lupa. Ada pesan terakhir untukmu dariku.

Sekali kau menghujam hatiku sampai mati. Berulang-ulang.

Jangan harap kau bisa membuat utuh kembali.

Karena kau akan temukan diriku didalam peti.

Tapi aku tunggu kau di alam mimpi.

Uncategorized

Sakit!!

β€œDok, tolong..”

 

Jarum jam serasa berhenti, nafas ini sesak.

Sudah siapkah aku untuk pergi dari sini?

Dingin, mati rasa. Lemas.

Berkunang-kunang, namun ku dengar sayup suara suster β€œMbak, kuat ya kita bantu oksigen”

Aku tau, aku akan selamat. Entahlah firasat darimana?

Tapi aku ingin terbang tinggi menari dengan awan

Dan menyadari, ternyata aku sendiri

Begitu nyata saat tadi, tak kusangka cerobong asap dari mulutku lebih dingin dari sepi

Kaki ku kembali hangat dalam balutan kain tebal

Aku melihat sekeliling, masih sepi

Hanya ada tabung besar berisi oksigen dingin

Tuhan, kenapa kau tak membiarkan aku menari sedikit lebih lama?

Apakah aku belum siap? Apakah masih ada orang sekitar yang ingin menari di pijakan yang sama?

Aku sungguh tak mempercayai tipu daya dunia

Ijinkan aku untuk beristirahat kali ini, karena suster telah menyuntikkan obat tidur untukku.

Dari aku, yang tidak takut akan kepahitan.

Uncategorized

Sisi lain

Sedang berada di tengah laut. Nahkoda ku entah dimana? Haiiii… ada badai disini. Ah aku tau, dia sedang berusaha menenangkan kapal pesiar ini. 

Aku hanya perlu diam di samping kapal, menikmati badai. Nikmat? Sungguh itu bukan kata yang tepat. Tapi aku harus tetap berada disini hingga saatnya tiba. 

Saat yang aku tunggu, saat nahkoda dan para awak kapal membuatku menjadi berguna. Aku sepertinya bahagia di atas penderitaan orang lain. Tidak! Tidaak! Aku tidak boleh seegois itu. Mengapa aku malah memikirkan hal itu ketika semua sedang gelisah menerjang badai?

Lebih baik aku berdoa agar badai ini berhenti, agar kapal pesiar mewah jua tak merajuk. 

Sang mentari menampakkan sinarnya. Pagi ini semua awak kapal berteriak membangunkanku. Yah, benar saja badai sudah terlewati. Aku tersenyum kecil melihat sorak sorak para awak kapal.

Senyumanku berubah ketika melihat nahkoda terlihat bahagia bersama kapal pesiar kesayangannya. Ah, aku cemburu melihatnya.

Sungguh sakit. Seketika rasa sakit itu makin bertambah, teringat kapal pesiar ini memang sudah takdirnya. Aku hanya sekoci, iya sekoci yang akan di ingat nahkoda ketika kapalnya sudah tak lagi dapat di gunakan. 

Iya, aku memang hanya sekoci.
Bunga lily, 2016

Uncategorized

Candu Sepi Dini Hari

14 Oktober 2015. 

Dini hari, waktu dimana sepi menjadi candu. 

Kau tahu apa tentang sepi? Bahkan kau hanya merasakan sedikit makna sepi itu.

Coba dengar, rasa, sentuh, dan hirup. Sepi itu lebih dari yang kau tahu.

Aroma nya sungguh memikat, senikmat aroma secangkir kopi pekat.

Sedikit sentuhan membuat candu sendu. 

Kembali otak akan beradu dengan hati. Beku,

Dengan langkah pelan, tetesan air mata jatuh. Candu telah di mulai.

Bisu, beku. Pecandu telah hanyut dalam gelap waktu pagi. 

Surya, pesanku jangan dulu berdiri. Masih ada seonggok kisah yang ingin ku beri pada sepi gelap pagi.
Dari pecandu sepi.

Uncategorized

Singkat Cerita Setengah Hari

2 Agustus 2015, hari Senin. 

Kali ini sudah kesekian kalinya aku mangkir dari kantor tempat aku magang. Bukan karena sengaja bolos, tapi karena sedang sakit dan harus kontrol ke rumah sakit. Yah lupakan hal itu, karena hari ini aku hanya ingin bersenang senang dengan duniaku sendiri. Mengapa? Karena hari ini mungkin bukan hari pertama aku merasakan sedih, suntuk, gundah dan teman temannya yg sering disebut dengan galau. 

Hari ini jujur saja aku tidak ingin lagi terpuruk dalam hal hal itu. Aku bosan, maka dari itu aku mencoba kembali ke rutinitasku yang sejak dulu aku lakukan, yaitu mendatangi cafe salah satu mall di kotaku yang kebetulan sangat dekat dengan rumahku. Aku mulai memesan sesuatu dan duduk di sofa kecil. Aku buka tas merah yang biasa aku bawa ke kampus, dan mengeluarkan beberapa barang favoritku yaitu buku, handphone dan headset. Disitu aku mulai memasang kabel putih ke salah satu ponselku dan aku sambungkan ke playlist lagu favoritku. Aku ambil buku yang di dalamnya berisi tentang kepemimpinan yang baik, buku yang di pinjamkan oleh pimpinanku di kantor tempatku magang karena buku tersebut sesuai dengan skripsi yang aku kerjakan, yah kemudian aku membaca tulisan berbahasa inggris itu dengan santainya sambil menikmati pesanan makanan kecilku. 

Cukup lama aku membaca, aku keluarkan notebook hitamku dan mulai menyalakan blog ini. Sebelum aku mulai menulis blog, aku melihat beberapa orang yang berlalu lalang di mall dan para pegawai cafe yang sibuk membuat kue dan melayani pelanggan. Ku tarik nafasku perlahan lahan, yaa aku menikmati sekali suasana ini. Sendiri bukan berarti aku harus berdiam diri di dalam kamar karena penyakitku. Aku masih bisa melakukan hal ini sekarang tanpa dia, tanpa siapa pun. Ku rasakan sesuatu bergetar, ternyata jantung di tubuhku. Sepertinya ia merasakan kesepian hingga ia berontak berdebar debar. Oh Tuhan, buatlah ia mengerti bahwa aku pun juga merasakannya tapi aku berusaha untuk tetap tenang. 

Aku mulai menulis dan menuangkan segalanya disini. Biasanya aku selalu membawa diary yang sering aku torehkan keseharianku. Tapi aku lupa membawanya, ya sudahlah aku tidak tahan ingin menulisnya di blog. Setelah beberapa kalimat yang aku tulis rasanya aku ingin sekali melihat film di bioskop mall ini. Teringat seseorang yang berjanji  mengajakku menonton film baru hari ini, ah sudahlah lupakan mungkin dia sedang bahagia saat ini tanpaku. Lalu mengapa tidak denganku? Aku pun juga akan bahagia hari ini, hari esok dan seterusnya. Sudah dulu ya, aku akan membaca buku lagi dan menghabiskan kue di mejaku. Selamat bersenang-senang πŸ™‚

Uncategorized

Merintih Sejenak

Aku hampir gila atau mungkin sudah gila selama ini? Entah kenapa terkadang aku merasa aku ingin sekali menertawakan kehidupanku, tapi terkadang juga ingin menangis berteriak menarik mahkota hitam sebahuku. Mungkin orang lain melihatku dari tampak luar adalah sosok yang riang, jenaka penuh tawa dilengkapi keusilan dan kekonyolanku bertingkah. Namun, coba tengok dari sisi lainku semua akan melihat bagaimana usahaku untuk tetap kuat, bagaimana aku ketika badai menerpa. Mungkin terlihat sedikit hiperbola, tapi memang itulah yang aku rasakan. 

Sekarang lupakan hal itu, saat ini aku ingin bertanya pada kalian. Pernahkah kalian tidak mempercayai satu orang pun di dunia ini? Bagaimana rasanya ketika kita menghadapi masalah lalu tidak ada yang bisa kita percayai? Jika aku kalian, maka jawabku adalah pernah dan aku akan serahkan itu semua pada Tuhanku, walaupun itu akan merubahku menjadi sosok yang dingin, angkuh dan acuh tak acuh tapi setidaknya hati ini tenang. 

Sekian.